dare2dream

atau ?

“Happy are those who dream dreams and are ready to pay the price to 
make them come true.” – Leon Joseph Cardinal Suenens 

Baru-baru ini, saya menyaksikan tayangan biografi Presiden Amerika 
Serikat yang baru terpilih, Barack Hussein Obama. Menilik perjalanan 
hidupnya, sangat sulit terbayangkan bagaimana anak yang ditinggal 
oleh ayah kandungnya sejak kecil dan sempat berpindah tempat 
tinggal, termasuk pernah tinggal di Indonesia ini, akhirnya menjadi 
orang nomor satu di negara adidaya Amerika Serikat. 

Dengan darah campuran antara ibu kulit putih dan ayah keturunan 
Afrika, membuatnya sempat mengalami kebingungan identitas. Bahkan, 
pada usia awalnya, Obama sempat berkenalan dengan narkoba. Namun, 
segalanya mulai berubah tatkala ia diterima di Harvard Law School 
dan mulai melihat titik terang dalam hidupnya.

Mulailah Obama berani bermimpi, setahap demi setahap. Mulai dari 
masuk ke Kongres, menjadi senator hingga menjadi presiden. Sebuah 
perjalanan yang hanya bisa dilewati dengan berpegang teguh pada 
mimpinya. Pada diri Barack Obamalah, kita melihat bagaimana pidato 
Martin Luther King yang terkenal, “I have a dream”, betul-betul 
terwujud! 

Daring dream atau day dream? 

Sudah begitu banyak buku, seminar, artikel yang mengajarkan kepada 
kita soal pentingnya menetapkan sebuah impian. Namun, pertanyaan-nya 
yang terpenting sekarang: apakah yang kita miliki sekadar (day 
dream) atau itu merupakan berani yang harus dicapai (daring 
dream)? 

Dalam pembelajaran selama hidup ini, dari buku – buku yang saya 
baca, seminar yang penah saya ikuti, termasuk belajar dari kisah 
hidup Barack Obama, saya mendefinisikan ada lima perbedaan kualitas 
antara yang berani bermimpi (daring dream) dan sekadar bermimpi (day 
dream). 

Pertama, orang yang berani bermimpi menggantungkan kepada disiplin 
diri untuk meraihnya, sedangkan seorang pemimpi menggantungkan 
kepada keberuntungan. 

Seorang yang berani bermimpi, umumnya punya disiplin yang kuat untuk 
merealisasikan mimpinya. 

Ambil contoh Barack Obama, tatkala kalah dari Bobby Rush dalam 
pemilihan Partai Demokrat untuk US House of Representative pada 
2000, dia tidak menyerah dan masih setia mewujudkan -mimpinya. 
Dengan kepala tegak dan penuh disiplin, Barack Obama tetap 
melanjutkan perjuangan prinsip-prinsipnya. Itulah salah satu 
disiplin mewujudkan yang ditunjukkan Barack Obama. 

Dalam hal ini, benarlah apa yang dikatakan motivator dunia, Jim Rohn 
bahwa, “Discipline is the bridge between goals and accomplishment. “ 
Jelas, hanya kedisiplinanlah yang menjadi kunci atau jembatan untuk 
merealisasikan setiap kita. 

Kedua, pribadi yang berani bermimpi tetap terfokus pada proses 
pencapaian, sedangkan pemimpi selalu terfokus kepada tujuan akhir 
saja, serta enggan melewati prosesnya. 

Lihatlah Barack Obama. Ia memulai proses menjadi kandidat presiden 
dengan tertatih-tatih, satu demi satu persaingan yang berat harus 
dihadapinya. Termasuk persaingan yang luar biasa adalah justru 
tatkala ia harus berhadapan dengan Hillary Clinton, istri mantan 
Presiden Bill Clinton yang sudah begitu dikenal. 

Jutaan pasang mata bisa melihat bagaimana proses perdebatan yang 
sengit terjadi di antara mereka, dan Obama menjadi Presiden bukannya 
dengan jalan yang mulus. Namun, itulah proses perjuangan yang 
ditunjukkan seorang Barack Obama. 

Berbicara tentang hal ini, Greg Anderson, seorang penulis dari 
Amerika dan pendiri American Wellness Project pernah berujar, “Focus 
on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing 
an activity but in doing it.” Sungguh tepat! 

Karena itu, kita pun perlu berfokus pada proses pencapaian setiap 
visi, impian dan cita – cita kita, sesulit apa pun! Dan mulai 
menikmati proses dalam pencapaiannya. Herannya, tatkala kita betul-
betul menikmatinya, suatu ketika kita akan merasa bahwa, tanpa 
disadari ternyata kita sudah bisa meraih apa yang kita angan-
angankan. 

Ketiga, seorang yang berani bermimpi mencari alasan untuk bertindak, 
sedangkan seorang pemimpi mencari alasan untuk mengeluh. 

Seorang yang benar – benar berani bermimpi, memfokuskan diri kepada 
tindakan – tindakan yang makin mengarahkan kepada mimpinya. 

Sebagai seorang yang pernah berkerja sama dan menggunakan 
metode ‘agitasi emosi’-nya Paul Allinski, Barack Obama banyak 
meletakkan dirinya pada situasi ketika ia betul-betul ‘marah’ pada 
kondisinya sekarang untuk memaksanya mengambil tindakan. Itulah yang 
diajarkan oleh Obama. 

Tatkala kita tidak puas dengan kondisi sekarang dan mengharapkan 
yang lebih baik, janganlah mengeluh tetapi berbuatlah sesuatu yang 
mampu mewujudkan kondisi yang lebih baik. Fokus Obama hanya satu, 
yaitu bertindak untuk mencapai apa yang menjadi impiannya. Bagaimana 
dengan Anda? Lebih banyak berkeluh kesah atau bertindak? 

Keempat, seorang yang berani bermimpi selalu mengambil inisiatif, 
sedangkan orang yang hanya bermimpi selalu menunggu. 

Seorang pemimpi punya kecenderungan menunggu. Entah menunggu waktu 
baik, hari baik, kesempatan lebih baik, peluang lebih baik, rekan 
yang baik, tempat yang baik, dan hal baik lainnya yang selalu 
menjadi prekondisi untuk mewujudkan impiannya. 

Hal ini kontradiktif sekali dengan orang yang benar – benar berani 
bermimpi. Dalam kondisi atau situasi apa pun, orang ini selalu 
mengambil inisiatif. Apa yang belum ada, maka dia akan berusaha 
keras untuk mencari atau bahkan menciptakannya. 

Perhatikan Barack Obama, kelahiran 1961, yang tidak menunggu 
lantaran usianya yang relatif muda sebagai politisi. Bandingkan 
dengan Obama yang tidak menunggu kesempatan datang, selalu mengejar 
bahkan menciptakan peluang. Termasuk saat Obama berusaha bergabung 
dengan Sidley and Austin law firms di mana ia bertemu dengan 
Michelle pertama kali, sekaligus kesempatannya untuk bertemu dengan 
para top leader. 

Akhirnya, kelima, seorang yang berani bermimpi selalu menganggap 
bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi, 
sedangkan seorang pemimpi menganggap bahwa yang terjadi adalah 
tanggung jawab orang lain. 

Kualitas terakhir inilah yang menjadi penentu antara seorang yang 
sekadar pemimpi dengan yang berani bermimpi. Mereka yang berani 
bermimpi, punya respons yang benar atas apa pun yang terjadi. 

Pada saat terjadi kesalahan ataupun kekeliruan, diri mereka tidak 
mencari ‘kambing hitam’ untuk dipersalahkan, tetapi selalu belajar 
dari pengalaman itu. 

Mulai saat ini, marilah menjadikan diri kita sebagai  
bukan hanya seorang

Ngomong-ngomong, tahukah Anda buku pertama yang ditulis Barack Obama 
yang sebagian besar diselesaikan di Bali, berhubungan juga dengan 
yakni, “Dreams from My Father”! Barack Obama adalah dare 
dreamer sejati!

Sumber: atau ? oleh Anthony Dio Martin